CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Jumat, 10 Februari 2012

miss invisible




There's a girl
Who sits under the bleachers
Just another day eating alone
And though she smiles
There is something just hiding
And she cant find a way to relate
She just goes unnoticed
As the crowd passes by
And she'll pretend to be busy
When inside she just wants to cry
She'll say...

Take a little look at the life of Miss Always Invisible
Look a little harder, I really really want you to put yourself in her shoes
Take another look at the face of Miss Always Invisible
Look a little closer and maybe then you will see why she waits for the day
When you'll ask her her name

The beginning, in the first weeks of class
She did everything to try and fit in
But the others they couldn't seem to get past all the things that mismatched on the surface

And she would close her eyes when they left and as she fell down the stairs
And the more that they joked
And the more that they screamed
She retreated to where she is now
And she'll sing...


Take a little look at the life of Miss Always Invisible
Look a little harder I really, really want you to put yourself in her shoes, yeah, yeah
Take a little look at the face of Miss Always Invisible
Look a little closer and maybe then you will see why she waits for the day that
you will ask her name

Then one day, just the same as the last
Just, the days been in counting the time
Came a boy, that sat under the bleachers just a little bit further behind...

about vina





Sometimes I gettin bored to live in my life, they don’t know how tired I’m when I study there.I know it isn’t just me feelin like that.Huh, i wanna be an author.I hidden it from anyone because they are underistimate me and always be.
How i wanna attack them who always do that.They don’t know me anymore.Just judge me from the cover.They don’t wanna learn from the story of my life,
Hahahaha
BITCHIE
WHAT THE FUCK
WELCOME TO HELL THEN
Maybe, just maybe
I don’t usefull
So desperate
I’m not smart, I’m not beautifull, and I don’t have any positive sides.
Don’t have to ignored me, this is me
I created by God
If i can choose to alive in my life
I wanna have my own world
Just me
And i can imagine and create about short story as I want.

waiting for you




Namanya, Raka Adhyasta.Dia cukup populer karena dia atlet sekaligus profesor di sekolahku.Seorang dengan perawakan tinggi dan berkulit brownies yang membuat dia tambah terlihat memikat.Ah, aku benci dengan keadaan ini.Kenapa aku harus tertarik pada orang macam itu.Orang yang gak pantes buatku, karena well prestasiku tidak secemerlang dia.Dan tampangku pun tidak termasuk dalam kategori cantik.Ingin sekali mengeluh kenapa Tuhan menciptakan aku seperti ini, apakah berarti nanti aku mendapatkan seseorang yang bernasib sama sepertiku?Sama sekali tidak meperbaiki keturunan.
Astaghfirulloh!!!
Hentikan menyakiti diri sendiri.




nitnot


Aku menutup diary biru muda bercover doraemon, dan menghembuskan nafas yang sedari tadi menahanku.Otakku kacau, belajar juga ga ada yang masuk untung PR Bahasa Indonesia sudah aku kerjakan.Pikiranku menerawang pada kejadian yang akhir-akhir ini sering membuatku linglung.Aku pikir, aku tidak akan menemukan seseorang yang membuatku tertarik seperti yang sering kubaca di novel-novel.Tapi ternyata, aku harus mengakui kalo aku tertarik sama yang satu ini.Dan kenapa aku baru menyadari keberadaan dia disaat aku sudah hampir dua tahun sekolah disini.Ah, lebih baik aku tidur.Besok jam pertama pelajaran sejarah.Kalo sampe telat, siap-siap konser deh.
Setelah mengecek kembali buku-buku yang harus kubawa besok aku bergegas ke kasur dan memulai perjalanan ke alam bawah sadar.
Esok harinya, aku bangun tepat jam lima.Msih setengah sadar sih, aku segera sajamasuk ke kamar mandi dan beberapa ment aku tertidur.
“Tok tok tok!NOTTTT LAGI NGAPAIN SIH LO!”terdengar pintu kamar mandi digedor keras.Aku Tergagap kaget.Duh, si abang mulai marah nih.batinku.
“Sekarang jam berapa sih Bang?”Tanyaku pada Bang Radit.
“SETENGAH ENAM!”Jawabnya sambil meraung.
“Ha?Oke Bang.Lima menit lagi.Hehee.”Kataku sambil cengengesan.
“Nyengir lo.Udah sana1”Katanya lagi.
Lalu aku secepat mungkin menggutur dan mensabuni tubuhku.Huh selesai juga.Mantep banget deh punya abang galak kaya Bang Pratama Dian Raditya.
“Udah ko Bang.”Kataku pada Bang Radit.
Spontan Bang Radit menjambak rambutku.”ADUHH.”Kataku mengaduh.
“Rese kamu ah.”Gerutuku.
“Sebagai ganti nunggu lo setengah jam.”Jawab Bang Radit lalu menjulurkan lidahnya.
“Ih doggie.”Kataku dan kabur sebelum Bang Radit menghajarku.
Kali ini giliran aku yang menunggu Bang Radit, entah lagi apa dia di kamar.Perasaan aku yang cewe aja gak selama ini deh.
“BANG RADIT CEPETANNNN UDAH JAM...”Belum selesai aku berteriak, Bang Radit sudah menyumpelku dengan roti yang dia bawa.Dan aku telan, hehee.
“Hahaha ditelen juga.”Ejek Bang Radit.
“Kalo dibuang mubadzir.”Jawabku.
“Alasan.”Katanya lagi.
Dengan gemas aku mengacak-ngacak rambutnya yang udah rapi itu, dan ngibrit lari ke arah motor Bang Radit.
“Eh rambut gue.Sialan lo Not.”Jawab Bang Radit.
“Cepetan deh, mau telat tau.”Kataku manyun.
Bang Radit menstarter satrianya setelah aku menaiki satria, Bang Radit tancap gas dan BANG RADITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT.Aku berteriak sekencang mungkin.
Sampai depan pintu gerbang, Bang Radit terkekeh melihat tampangku yang semrawut.Dia kan tau, aku phobia ngebut.
“Gak telat kan?”Tanyanya usil.
Aku tidak menjawab Bang Radit dan ngeloyor pergi masuk kelas.
Sepanjang pelajaran sejarah, aku sibuk mencatat sana-sini apa yang aku dengar dari penjelasan Pak Ris.Beliau guru favoritku sejak aku kelas X.Dan gak kerasa bel istirahat berdentang, semua buru-buru bersiap keluar.Dan aku bersiap ke mading setelah aku membeli eskrim.
Aku melihat-lihat mading, aku sangat menyukai gambar yang tertempel di mading, gambar itu seperti cerita berseri dan setiap beberapa minggu atau hari aku bisa mendapat kesimpulan dari gambar itu.Dan tepat hari ini, ini bagian kesimpulan dari kesemua gambar yang tertempel di mading beberapa hari yang lalu.Saking asiknya menyimpulkan, aku tidak menyadari ada seseorang yang kini tengah berdiri di sampingku.
“Aku sering melihatmu berdiri di mading.”Katanya.
“Oh, aku emang suka melihat mading.”Jawabku sambil asik menggabungkan gambar-gambar yang kemarin aku foto tanpa menghiraukan si penanya.
“Mana yang paling kau suka?”Tanyanya lagi.
“Yang ini.”Kataku sambil menunjuk gambar berseri itu dan menatap si penanya.Hah?GAK SALAH LIAT?Dia kan Raka?Aduh aku ko jadi gugup gini ya.Mati aku.
“Kenapa kamu suka gambar itu?”Tanyanya lagi.
“Abisnya bagus sih, kayanya gambar-gambar ini cerita berseri deh.Dan ini pasti bagian terakhir seri minggu ini.”Jawabku bersemangat sambil sesekali memakan eskrimku.
“Lalu apa ceritanya?”Dia kembali bertanya.
“Menurut aku sih, ini bercerita tentang anak laki-laki yang kehilangan neneknya.Dia merasa bersalah dan dia merasa kematian neneknya gara-gara ulah dia.”Jelasku panjang lebar dan melirik Raka.
Dan apa yang sedang dia lakukan?Menatapku dengan tatapan sulit diterka.
“Kenapa melihatku seperti itu?”Tanyaku salting.
Dia memamerkan senyumnya yang ternyata manis sekali.
“Haha tidak.Hanya saja aku senang melihat orang seperti kamu.”Jawabnya lalu berlalu meninggalkanku.
“Apa maksudnya?”Tanyaku pada diriku sendiri lalu menghabiskan sisa eskrimku.
Aku berlari kecil menuju mading, tuh kan ada gambar yang baru.Tapi ko gambarnya aneh, Cuma kotak bertuliskan mading.Apa maksudnya?Aku menjilati eskrimku sambil terus menerka-nerka gambar apa maksudnya.
“Kamu lagi.”Kata suara di dekatku.Aku terlonjak kaget.Raka lagi?Duh ko dia kesini lagi atau jangan-jangan dia juga senang membaca isi mading ini.Bagus lah jadi bisa berduaan terus sama dia.Hahaha.
“Ngapain kamu?”Tanyaku aneh.
“Emang Cuma kamu yang boleh baca mading.”Jawabnya.Suaranya dalemmmmm banget.
“Bu bukan gitu, tapi aku ga pernah liat kamu sebelumnya.”Jawabku.
“Tapi aku sering melihatmu disini dari awal semester dua.”Katanya dan lagi-lagi menatapku penuh tanda tanya.Dan jawaban dia membuatku melongo.
“Sambil makan eskrim.”Katanya lagi lalu tersenyum sehingga membuat mata hazelnya sedikit menutup.
Kenapa Tuhan ciptain mahluk seindah kamu.Batinku lagi.
“Ah, aku suka eskrim.Kamu mau?”Tanyaku menawarkan eskrimku yang tinggal selahap lagi.
Dia tertawa kecil.”Kamu pikir aku ga bisa beli?”Tanyanya.
“Ih, aku kan menawarkan.Kalo kamu mau, aku pasti nyuruh kamu beli sendiri ko.”Jawabku memalukan.Dia tertawa lagi bahkan lebih renyah.Ah, dia memang indah.
“Eh kau tau tak siapa yang buat gambar di mading?”Tanyaku.
Dia hanya menggeleng lemah pertanda dia tidak tau.
“Kenapa?”Tanyanya.
“Engga sih, pengin tau aja.Abis menarik banget.”Jawabku singkat.
“Suatu saat kamu pasti tau.”Katanya.
Mencurigakan banget sih.Tapi ini kemajuan pesat, aku gak perlu susah payah buat liat dia tinggal datang ke mading dan kemungkinan dia juga ada disini.Lagian tadi dia bilang kalo dia sering liat aku.Ko aku ga pernah liat dia sebelumnya ya.Jangan-jangan dia mahluk gaib lagi.Ih plis deh, bikin aku merinding.









Dua hari ini, mungkin Tuhan sedang baik padaku.Dia mempertemukan aku dengan Raka.Malah ngobrol.Hehee
Yang bikin heran, pernyataan dia yang bilang sering melihatku sejak aku semester dua.Apa jangan-jangan dia juga senang memperhatikanku.
NGIMPI ye?
Ah, pusing deh.Semoga besok kita bisa lebih dari sekedar ngobrol.Jambak-jambakkan misalnya.Konyol.Hahaha


Nitnot







Cuaca hari ini sangat membuatku dehidrasi, panasnya ampun deh.Mana ini bus gak dateng-dateng.Keringat mulai membasahi bagian punggungku, berkal-kali aku menyeka keringat di dahiku.Duit tinggal dua ribu, Cuma cukup buat ngebis.Kalo beli es, berarti aku harus jalan?Sama aja bohong, ntar abis duluan esnya.Selang menit berlalu, teman-teman yang sedang bernasib sama denganku mulai ribut.Mereka seperti melihat sesuatu yang membuat mereka senang atau entahlah aku tidak peduli itu.Yang kubutuhkan cuma bis agar aku segera pulang.
“Eh, ada Raka.”Kata salah satu suara.
“Iya, duh tumben dia ke halte.Ngapain ya?”Kata suara yang lain.
“Mau jemput gue deh.”Kata satunya lagi sambil cekikikan.
Apa?Raka?Refleks aku melirik dan mencari dimana Mahluk Tuhan Paling Menyegarkan itu.Aku clingukan tapi yang ada, aku malah melihat cewe-cewe menatapku dengan tatapan misterius.Aku mengernyitkan dahi.
“Ada apa ya?”Tanyaku ragu.
Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah menyunggingkan senyum.Pasti ada sesuatu di belakangku.Perlahan aku memutar badanku dan
“WAAAAAAAAAAAAAAA.”Aku berteriak tepat dihadapan Raka.
Raka menutup telinganya.
“Aduh, bisa budeg ntar aku.”Katanya lembut.
“Ya kamu ngapain disini?”Tanyaku masih dengan nafas agak tersengal.
“Gak boleh ya?”Dia balik bertanya.
“Aneh aja.”Jawabku datar.
“Kamu mau pulang?”Tanyanya lagi.Sumpah, kalo bukan Raka yang tanya, aku bakal jawab “Bukan tapi aku mau beli pupuk disini.Ya Alloh plis deh, aku di halte dengan keadaan masih pake seragam dan ada di sekitar sekolah.Ya jelas mau pulang lah.Bego banget sih.”
“Iya.”
“Nih eskrim, pasti kamu pengin minum.”Kata Raka lagi sambil menyodorkan dua conello vanilla dish kesukaanku.Aku menerimanya dengan melongo dan Raka hanya tersenyum lalu berlalu begitu saja.
“Darimana dia tau, aku suka conello yang ini?”Tanyaku pada diri sendiri.
“Ciee ciee Nitnot dideketin Raka.Diam-diam yah.”Kata Tasya.
“Kenalin gue dong Not.”Allice menambahkan.
“Aku juga gatau dia mau kesini.”Jawabku gak nyambung.
“Sejak kapan lo deket sama Raka, Not?”Tanya Allice lagi.
“Gak sengaja tau, waktu itu aku berdiri depan mading.Kalo mau kenal, kalian berdiri aja depan mading pas istirahat apa sebelum jam pertama.”Jelasku.
“Ha?Aneh banget sih.”Timpal Tasya.
“Besok coba aja, yaudah aku duluan bisnya nongol.”Kataku cepat.
Paginya, Allice dan Tasya mengikuti apa yang kemarin aku sampein malah mereka terlalu pagi menurutku.Aku sempatkan untuk melihat gambar seri itu, kali ini gambarnya cowo sama cewe depan mading.Setelah ngobrol sebentar dengan kedua temanku, aku segera ke kelas karena ada PR ynag belum ku kerjakan.
“Eh, itu Raka.”Kata Allice sambil menyikut Tasya.Tasya melirik.
“Pura-pura gak liat, biar dia nyapa kita.”Bisik Tasya.
Raka melihat kedua cewe itu dan sesekali melihat ke sekeliling seperti mencari sesuatu.Karena gak sabar, akhirnya Allice dulu deh yang menyapa Raka.
“Ka Raka?Suka liat mading juga?”Tanya Allice basa-basi.
Raka tersenyum simpul dan menjawab,”Ya begitulah.Kamu juga?”
“Iya dong, kami suka baca tips-tips ter uptodate.”Jawab Tasya gak mau kalah.
“Oh, tapi aku jarang liat kalian ya?”Tanya Raka lagi.
Kontan keduanya kaget namun mereka bersikap normal lagi.
“Ah, mungkin pas kita disini.Kaka lagi gak disini.”Kata Allice beralasan.
“Hahaha, iya kali ya.Apa kalian kenal Qonita?”
“Oh iya kenal.Malah sekelas.”
“Dia kemana ya?Biasanya pagi udah disini.”
“Dia di kelas, maklum ada pekerjaan rumah yang belum kelar.”
“Anak itu..., ya sudah salam aja buat dia.Bentar lagi masuk nih, harus balik ke kelas.”
“Eh iya ka.”Jawab mereka bersamaan.
Setelah kepergian Raka, Allice dan Tasya berjalan ke kelas untuk menyampaikan apa yang telah mereka lakukan denngan Raka.
“Lo bener Nit.Dia ke mading.”Kata Allice menggebu-gebu.
“Terus kita sempet ngobrol gitu deh, tapi sayanng.”Kata Tasya.
“Sayang kenapa?”Tanyaku.
“Dia nanyain lo tuh, bukannya nanyain kita kita malah nanyain lo.”Jawab Tasya.
“Nanyain aku?Perasaan aku belum pernah kasih tau namaku deh.”
“Heh, jelas-jelas dia nanyain lo Priskila Dian Qonita.Kayanya di sekolah kita Cuma lo yang namanya Qonita.”
“Aku belum pernah ngasih tau namaku.Jangan mengada-ada deh.”
“Terserah, kita sih ga masalah.Ya gak Al?”
“Yuhuu.”
Tuh kan, Raka aneh.Darimana dia tau namaku?Sebenernya dia itu siapa sih.Dengan langkah terseok-seok aku berjalan ke arah halte namun lagi-lagi Raka muncul dibelakangku.
“Kenapa sih kamu itu suka muncul tiba-tiba.”Kataku setengah kesal setengah senang.
“Ayo ikut.”Katanya tak menggubris pertanyaanku.
“Kemana?”
“Udah ikut aja.”
Raka mengajakku mengeilingi kota dengan satrianya.Dia menngarah ke taman kota, dan akhirnya kita berhenti di taman.Berhubung hari sudah sore, taman mulai rame.Aku melihat ada sewa sepeda tandem, dari dulu aku pengin banget naik itu.Tapi apa Raka mau ya?
“Kamu mau apa?”Tanya Raka seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
“Eh engga.”Jawabku berbohong.
“Mumpung di taman.”Bujuk Raka.
“Aku pengin naik sepeda tandem, tapi kan harus ada dua orang.”Kataku bego
Melihat ekspresiku yang mungkin terlihat bloon, Raka tertawa.Gak pernah aku liat Raka tertawa lepas seperti ini.Rasanya lebih bebas.Lalu Raka tersenyum padaku.Uh plis God, kenapa Raka punya senyum semanis ini sih.Bikin aku ciut.
“Kan ada aku.”Kata Raka lembut.
“Aku pikir kamu ga suka yang beginian.”Balasku lagi.
Tanpa basa-basi Raka menarik pergelangan tanganku dan mengajak ke tempat sewa sepeda.Rada shock aku, pas liat Raka menggenggam tanganku.Ga pernah terlintas dalam pikiranku ternyata ini lebih indah dari yang kubayangkan.Kami bersepeda mengelilingi taman, sesekali berhenti dan kami melanjutkan perjalanan lagi.Selesai bersepeda, tiba-tiba perutku bunyi.Gawat, semoga Raka ga denger tapi salah.Dia melirikku dan terkikik.
“Pulang deh.”Kataku menahan malu.
“Kenapa?”Tanyanya.
“Aku lapar.”Jawabku jujur dan apa adanya.
“Kamu ingin apa?”
“Makan.”
“Maksudku kita makan disini aja, kamu mau apa?”
“Eng,soto.”
“Soto?”
“Iya yang diujung itu, enak.”
Raka akhirnya menuruti permintaanku, kami makan soto bersama.Awalnya Raka terlihat ragu, tapi dia malah nambah semangkok lagi.Aku melihat Raka, ko dia beda banget ya kalo pas di sekolah.Di sekolah dia keliatan kalem, cool, dan diam.Tapi disini, dia seperti lebih ceria.Apapun dia, tapi aku tetap menyukainya.Eng, lebih suka ke Raka yang ini sih daripada yang di sekolah.
“Eh, kamu beda ya.”Ceplosku.
“Beda gimana?”Tanya Raka sambil melahap suapan terakhir sotonya.
“Kalo di sekolah kalem disini ko engga.”Jawabku.
Raka menyudahi makannya dan menatapku tajam.Tambah keren dan bikin jantungku loncat.
“Dari awal aku liat kamu, aku yakin Cuma kamu yang benar-benar bisa ngebuat aku jadi apa adanya aku.”Jelas Raka.
Sebenernya aku rada gak ngerti apa maksudnya, tapi aku iyakan saja.Dan Raka mengantarku pulang.
“Tetap jadi Raka yang seperti ini ya.”Kataku singkat lalu ngibrit lari ke dalem rumah dan meninggalkan Raka yang sedang kebingungan.
Setelah hari itu, aku dan Raka jadi makin sering bersama.Terkadang kita lari pagi atau sekedar saling mengantarkan makanan.Aku juga sering diantar jemput Raka.Ini membuat Bang Radit senang, soalnya dia bebas tugas untuk mengantarku sekolah.Ibupun merasa senang dan mengira Raka pacarku, duh ibu aku juga kepenginnya gitu.Tapi dekat seperti ini saja sudah membuatku merasa nyaman, aku tidak mau berharap lebih.Bahkan seantero SMA pun tau kedekatan kami.Yang paling dendam sama aku ya Allice dan Tasya, mereka kan fans berat Raka.Kadang aku kabur kalo ada mereka berdua atau terkadang mengajak mereka untuk menemaniku bertemu Raka.Tak pernah lupa, aku melihat gambar seri di mading.Kali ini ceritanya belum berujung bahkan hampir setengah tahun ini masih berlanjut.Yang membuatku heran, gambar-gambar itu seperti menceritakan tentang aku dan Raka.Siapa sih sebenarnya yang membuat gambar itu, aku benar-benar penasaran.Sampai akhirnya ujian datang, ini membuat intesitas bertemu dengan Raka berkurang.Kangen sih, tapi aku harus mengerti dia sebagai temannya yang baik dan yang diam-diam menyukainya.Hari ini, hari pengumuman kelulusan tapi aku tidak melihat Raka, aku bertanya pada teman-temannya mereka semua tidak ada yang tau.Aneh.Raka kemana ya?Ponselnya juga sulit dihubungi.Dan sampai akhirnya apa yang selama ini aku takutkan terjadi, Raka benar-benar pergi.Tidak ada komunikasi atau kabar dari Raka, bahkan hingga aku hampir 3 bulan di kelas XII tetap tak ada perubahan.Sedih sekali.Kenapa harus gini pada akhirnya?Kalo dia Cuma jadi angin lalu, kenapa dia harus memperindah hariku?Aku benci Raka.Diam-diam aku menangis di taman, taman ini tempat dimana kami memulai saat kita begitu dekat, saat aku melihat Raka bisa tertawa sebegitu lepasnya, saat melihat Raka berbeda.Semuanya ada Raka.Bahkan ibu dan Bang Radit menanyakan Raka.
Pagi ini, aku terbangun oleh dering sms yang berulang-ulang.Ada apa sih?Aku mengambil ponselku, ada 23 sms.Banyak amat.Kubaca satu per satu pesan dari mereka dan kesemuanya mengucapkan selamat ulangtahun.Uh, aku sendiri sampai lupa kalo hari ini berulangtahun, terlalu sibuk memikirkan Raka.Ini membuatku jadi teringat Raka lagi, aku ingin sekali dia memberi ucapan ulangtahun padaku.Tapi, jangankan ulangtahunku sekedar memberi kabar saja, dia tidak pernah.Tiba-tiba pintu kamarku diketuk, dan Bang Radit masuk ke kamarku.
“Selamat ulangtahun Nitnot jelek.Jangan sedih lagi dong adikku sayang.”Kata Bang Radit lembut sambil mengucek rambutku.
“Nih kado dari ibu, abang, sama gatau dari siapa.Tadi pagi ada di depan pintu.”Kata Bang Radit lagi lalu dia meninggalkanku sendiri.
Aku membuka kado dari ibu terlebih dahulu, syal rajutan ibu bertuliskan Qonita.Lalu dari Bang Radit, sepasang sepatu kets putih.Wah si abang baik juga ya, padahal sepatu merk ini kan mahal.Dan yang terakhir yaitu sebuah CD.Buru-buru aku membuka laptop dan menyetel kaset itu.
Tayangan pertama sebuah gambar mading, lalu loh ko gambar-gambar ini kan gambar seri yang ada di mading itu.Endingnya bertuliskan Selamat Ulang Tahun dan ada pesan yang mengatakan agar aku membuka jendela dan melihat keluar.Aku buka jendela dan aku melihat di langit ada banyak kembang api.Aku melihat ke bawah, ada seseorang disana, tapai siapa ya.Aku segera turun ke bawah dan menghampiri orang itu.
Dia, dia Raka.Aku sempat tak percaya.Lalu terlintas ingatan ketika dia meninggalkanku dengan alasan yang gak pasti.Aku tau aku gak berhak marah karena tidak ada hubungan papun yang mengikat kami.Tapi aku kecewa akan sikapnya yang sperti itu.Raka menahanku lalu memelukku erat.
“Maaf.”Katanya.
“Aku benci kamu.”Kataku memalukan.
“Dengerin dulu.Oke, aku salah aku ninggalin kamu tanpa pamit, dan aku sebenarnya yang membuat gambar berseri itu.Itu menceritakan tentang kamu dan aku.Dari awal kita bertemu, dan kamu masih ingat tentang gambar yang kehilangan neneknya.Ya, semenjak nenek meninggal aku menjadi terlihat diam karena aku merasa akulah penyebab kematian nenek.Setelah itu aku melihatmu, dekat denganmu dan aku sangat menyukaimu.Tapi aku tidak ingin suatu saat aku berubah karena aku teringat kejadian nenek lagi, aku hanya ingin menjadi Raka yang kamu inginkan seperti apa yang telah kamu katakan waktu itu.Aku pergi ke psikiater untuk menghilangkan rasa takut itu Qonita.”Jelas Raka panjang lebar dan membuatku benar-benar melongo.
“Jadi kamu percaya?”Tanya Raka hati-hati.Aku mengangguk lemah.
“Selamat ulangtahun Qonita .Gimana hadiahnya?”Tanya Raka lagi.
“HADIAHNYA BAGUS BANGET.Aku ga nyangka kamu sampai berbuat seperti ini sama aku.”Terimakasih.”Kataku antusias.
“Sama-sama, dan kau tau satu hal yang gak akan pernah aku tinggalin lagi di dunia ini.”
“Gatau.”
“Kamu.Eng, I wanna make your special day more beautifull with my heart.”Kata Raka seraya berlutut dan menyerahkan sebuket bunga tulip.
“Kenapa aku?”
“Dari awal kan aku udah bilang, Cuma kamu yang benar-benar menerima aku apa adanya aku.Dan kamu masih menungguku hingga sekarang ini kan?”Kata Raka sedikit menggoda.Dan jelas ini membuat mukaku bertranformasi warna.
“Raka ih, malu tau.”Kataku tertunduk
Rasanya seperti mimpi, orang yang selama ini aku suka dan aku impikan ternyata dia jauh lebih indah dan jauh lebih tak terduga dari yang kukira.Terimakasih Tuhan, membuatku tidak salah mencintai seseorang.
Priskila Dian Qonita & Raka Adhyasta

september




How the time passed away? All the trouble that we gave
And all those days we spent out by the lake
Has it all gone to waste? All the promises we made
One by one they vanish just the same

Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain

In the middle of September we'd still play out in the rain
Nothing to lose but everything to gain
Reflecting now on how things could've been
It was worth it in the end

Now it all seems so clear, there's nothing left to fear
So we made our way by finding what was real
Now the days are so long that summer's moving on
We reach for something that's already gone

Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain

In the middle of September we'd still play out in the rain
Nothing to lose but everything to gain
Reflecting now on how things could've been
It was worth it in the end

We knew we had to leave this town
But we never knew when and we never knew how
We would end up here the way we are
Yeah we knew we had to leave this town
But we never knew when and we never knew how

Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain

In the middle of September we'd still play out in the rain
Nothing to lose but everything to gain
Reflecting now on how things could've been
It was worth it in the end

september rain





Kulihat jadwal pertandingan volley di mading sekolahku.Nanti sore, ada pertandingan kelas XI IPA 1 dengan kelas XII IPS 3.Itu tandanya aku harus ke GOR agar aku bisa bertemu dengannya.Aku tersenyum simpul lalu mulai berjalan dengan sesekali melompat, mungkin terlihat aneh tapi tidak ada alasan apapun.Aku hanya senang melakukannya.Saking asiknya melompat, aku tidak sadar salah satu tali sepatuku lepas.Akhirnya aku menginjak tali itu dan hampir saja terjatuh jika tidak ditopang oleh sepasang tangan yang kokoh.Refleks aku menutup kedua mataku dengan tangan, dan segera tersadar saat aku ternyata tidak terjatuh.Aku membuka tangan dan mataku seraya menatap siapakah yang telah menolongku.Aku terbelalak kaget, tapi aku tidak ingin beranjak kalo saja aku lupa diri.Segera saja aku melepas diri dari dekapannya.
“Maaf.”Kataku lirih sambil sedikit menunduk.Lalu meneruskan jalanku tanpa berani menatap orang itu.Langkahku terhenti, aku lupa berterimakasih.Tolol.Aku kembali padanya.”Eh, terimakasih.”Kataku kikuk.Hati-hati aku menatapnya, dia tampak kebingungan lalu tersenyum.Sungguh senyuman yang memikat hati.”Santai saja.”Katanya sambil menepuk bahuku.Buru-buru aku pergi, bisa gila aku kalo terus menatapnya.Aku berjalan sembari memegang bahuku.Ah, kenapa Tuhan harus nyiptain kamu sih?Batinku.Sudahlah, aku tak berharap apapun dari dia.Cukup menatapnya.
Sore ini, aku telah bersiap di GOR.Aku duduk di barisan nomor 2, agar bisa menyemangatinya.Pertandingan dimulai, dia mulai masuk ke arena pertandingan.Berhubung dia yang paling pendek diantara teman-temannya, ini membuatku bisa fokus untuk melihat gerak lincahnya.Lama pertandingan berjalan, berkali-kali aku memotret dia dengan Nikon kesayanganku saat dia melakukan smash dan memblock.Aku sangat suka melihat dia seperti itu.Menambah poin plus untuk ketampanan dia.Pertandingan telah usai, baru saja beberapa langkah keluar GOR.Tiba-tiba hujan turun begitu deras.Aku berlari mencari tempat berteduh.Alhasil aku kembali masuk GOR dan berdiri dekat pintu masuk, menunggu hujan reda.Sembari terkantuk-kantuk aku terus menatap hujan itu.Betapa aku sangat menyukai hujan.Bau tanah saat hujan memberi ketenangan.Hujan mengingatkan aku pada seseorang.Ketika hujan, saat pertama aku bertemu dengan dia yang sampai saat ini aku kagumi.Sial, aku tidak bawa jaket.Udara dingin mulai merambat menusuk tubuhku.Aku masuk GOR dan meringkuk di pojokan, ternyata di GOR masih ada beberapa atlet yang belum pulang.Semoga dia ada disini.Ucapku dalam hati.Aku ke kantin GOR, membeli Nescafe untuk menghangatkan tubuh.Saat aku membeli Nescafe, hujan tampak mulai reda.Kuputuskan untuk segera pulang.Di depan pintu, aku melihat seseorang sedang menggosok-gosokkan telapak tangannya pertanda dia kedinginan.Dia hanya berkaos oblong.Pantas saja.Kuhampiri orang itu, lebih baik kuberi Nescafe saja.Dia lebih membutuhkan.
“Ini.”Kataku sambil menyerahkan Nescafe.Dia memalingkan muka padaku dan lagi-lagi aku terkejut dibuatnya.Dia lagi.Kenapa akhir-akhir ini aku berhubungan dengan dia.“Thanks.”Katanya sambil meneguk Nescafeku.Aku menjawabnya dengan senyuman dan kebetulan hujan mulai tinggal rintikan kecil, aku nekad menerobos rintikan itu.”Eh, hei kamu.”Teriaknya.Aku menghentikan langkah.”Aku?”Tanyaku tolol.
“Iya kamu.”Jawabnya.Aku menghampiri dia.
“Ada apa?”Tanyaku lagi.
“Kamu mau kemana?”
“Halte.Pulang.”Jawabku kaku dan singkat.
“Kalo gitu bareng aja.”Mau kan?Tawarnya.
Dalam hati aku berteriak kegirangan.Mana mungkin aku menolak tawaranmu.
“Boleh saja.”Jawabku.
Aku dan dia berjalan menuju halte, sungguh suatu hal yang pernah sangat aku harapkan.
“Kamu suka volley yah?”Tanyanya.
“Ah, tidak terlalu.”Jawabku.
“Tapi aku sering melihatmu tampak bersemangat saat kami bertanding.”
Aku terbelalak kaget, jadi selama ini dia tau kalo aku sering menontonnya.Mati aku.
“Hahahaha, engga juga.Yang lain banyak yang lebih bersemangat.”
“Tapi aku suka melihatmu bersemangat seperti itu.”Katanya.
Terdengar ketulusan saat dia mengucapkan itu.Mengejutkan.
“Ah, mungkin bukan aku yang kau lihat.”Kataku lagi untuk meyakinkan kalo yang dia lihat apakah benar aku atau bukan.
“Aku yakin kamu.Ayo cepat lari bisnya sudah datang.”Katanya sambil menarik tanganku.Kaget?Jelas!Tapi aku tetap diam, menunggu dia yang melepaskan genggamannya.Memalukan memang.Hahaha.Sampai beberapa menit setelah kami mendapat tempat duduk, baru dia tersadar dan melepas genggamannya.Betapa aku kehilangan itu.Hujan turun dengan deras lagi, suasana di bis sangat sunyi.Penumpang seperti tertidur semua.Aku melirik padanya, hmmm dia sudah tertidur rupanya.Dia sangat kelelahan.Aku memandangnya tanpa jemu, rasanya aku sedikit tidak percaya.Seseorang yang biasanya aku lihat hanya dari jauh kini berada di dekatku.Sangat dekat.Aku mengambil ponselku dan diam-diam memotretnya.Setelah mengambil beberapa gambarnya, aku kembali menatap hujan lebat itu.Titik-titik embun menempel jelas di kaca bis, iseng aku mengotori kaca itu dengan serentetan kata yang tidak penting.Hujan di pertengahan September ini menggoreskan satu kenangan indah.Ya, tepat hari ini aku berada di dekat dia yang selama ini aku puja, aku kagumi diam-diam.Ini mengingatkanku saat satu tahun yang lalu aku bertemu dengannya.Dengan dia yang kini tertidur pulas di dekatku.Aku tersenyum, rasanya tak ingin hari ini berakhir.
“Kau suka hujan?”Tanyanya membuatku terlonjak kaget.Aku menoleh, hanya tersenyum.
“Aku juga.Ini ngingetin aku sama almarhumah kakakku.Tapi, karena hujan ini juga dia jadi ninggalin dunia ini.”Katanya sendu sambil tertunduk.
“Ikhlas.”Kataku singkat.Dia menatapku kemudian tersenyum (lagi).
“Kalo aku suka hujan, karena ngingetin aku sama seseorang yang istimewa.”
“Oh ya?”
“Iya.Eh, aku duluan yah.Aku turun disini.”Kataku dengan raut sedikit tidak rela.
“Tunggu.”Dia mencekal lenganku.Aku menoleh.
“Cuma sama kamu, aku cerita tentang ini.”Katanya.Aku membentuk kata oke.Kusodorkan kelingkingku, lalu mengaitkan dengan kelingkingnya.
“Aku ga akan cerita ke siapapun ko.”Jelasku lalu tersenyum.Dia membalas senyumanku dan aku turun di halte dekat rumahku.
Malam ini, setelah selesai mengerjakan tugas aku membuka jendela.Hujan masih belum reda.Aku menulis kata DENIS.Denis adalah orang yang selama ini aku kagumi dalam diam dan dalam jauh.Sudah setahun ini aku memendamnya.Hingga aku naik kelas XI, tidak ada perubahan kecuali untuk hari ini.Dia begitu dekat denganku.Dia tidak mengenalku, meski aku menyukainya aku tak pernah melakukan hal apapun untuk merebut perhatiannya.Karena aku yakin itu tidak akan merubah dia menjadi mencintaiku atau apalah.Cukup seperti ini saja, aku sudah merasa senang.Aku ambil diary biru mudaku lalu mulai menulis,

Special day, 16-9-2011
“In the middle of September , we still play out in the rain”
Tepat satu tahun aku mengaguminya, dan tepat hari ini hujan mempertemukan kami kembali.Tapi, untuk kali ini dia lebih dekat denganku.Semoga esok akan tetap seperti ini.

Viona 
Ku tutup diaryku, lalu merebahkan diri.Tak lama setelah itu aku tertidur pulas.Tak memimpikan apapun, karena sore tadi rasanya aku telah bermimpi.
Pagi ini, rasanya aku begitu bersemangat.Mungkin efek dari ketemu Denis kemarin.Ah, dia bener-bener kasih vitamin tambahan deh.Haha.Sampe ibu juga merasa hal ini.
“Kamu abis dapet lotre ya?Kayanya semangat banget.”Tanya ibu.Pertanyaan konyol batinku.
“Loh, emang tiap hari aku semangat kan bu.”Jawabku asal.
“Ini semangatnya berlebihan.”Bantah ibu.
“Hahaha.”Aku tertawa geli mendengar bantahan ibu.”Sudahlah bu, Vio mau berangkat dulu.”Pamitku sambil mencium tangan ibu.
“Ya sudah sana, hati-hati.”Kata Ibu.
“Ya, bu.”Jawabku singkat sambil beranjak pergi.
Seharian ini, aku tidak melihat Denis.Mendadak kadar semangatku turun, apa karena aku terlalu berlebihan semangatnya?Ya ampun, menyebalkan sekali.Sampai jam sekolah berakhirpun aku tidak melihat dia sama sekali.Tuhan, apa ini hukuman buat aku, karena aku sekolah Cuma pengin liat Denis?Tapi kan dia bikin aku semangat.Aku salah ya?Kataku pada diri sendiri.Aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki saja.Aku malas untuk menunggu bis yang datangnya entah berapa jam lagi.Kutendang kerikil di depanku serta sesekali kupungut sampah yang berserakan di jalan dan membuangnya ke tong sampah.Aku mengusap peluh di dahiku, cuaca hari ini lumayan panas.Bener deh, hari ini komplit banget.Mana tadi ga liat Denis, dengan tololnya aku pengin jalan kaki, ditambah cuacanya mendadak panas gini.Aku berhenti dekat taman kota, untuk membeli coca-cola.Aku duduk sambil meneguk colaku, dalam hitungan detik colaku sudah habis kuteguk.Aku mengibas-ngibaskan tangan.Ada yang menyodorkan cola, wah kayanya si abang cola tau aku kalo dehidrasi.Tanpa basa-basi aku ambil cola itu dan kuteguk habis.
“Makasih bang, tau aja kalo aku dehidrasi.Yang barusan gratis kan?Soalnya duitku pas banget buat bayar cola yang satu.”Cerocosku sambil mengaduk tasku untuk mengambil uang.
“Iya gratis ko.”Katanya
Aku menghentikan aktivitasku saat mendengar jawaban abang cola.Ko, suaranya beda ya?Kayanya aku kenal ini suara.Aku menoleh ke sampingku.
“Ha?Kamu?”Kataku refleks.
Laki-laki di sebelahku yang ternyata adalah Denis nyengir.Waduh, lagi-lagi aku terlihat memalukan.Bukan terlihat lagi, tapi aku memang selalu memalukan.
“Bang, cola yang barusan aku bayar besok ya.”Bisikku pada abang cola, namun sepertinya Denis mendengarku.Dia tersenyum geli.
“Itu dariku.Tenang saja, aku sudah membayarnya.”Terang Denis.
“Thanks.”Kataku singkat lalu segera saja aku kabur dari tempat itu.
Sepanjang perjalanan pulang, aku berkomat-kamit ga jelas.Ingin rasanya melenyapkan hari ini.Terus saja ku cari kerikil untuk ku tendang.
“Duk.”Kerikil yang ku tendang mengenai helm orang yang tepat berhenti di depanku.Fiuh, untung saja orang itu memakai helm.Lagian salah orang itu berhenti mendadak di depanku.
“Maaf yah.Aku ga sengaja.”Kataku.
“Vio.”Kata orang di depanku.
“Iya?”
“Ayo pulang denganku.”
“Eh, kamu siapa?Maaf aku ga mau pulang sama orang yang ga aku kenal.”
Dia membuka helmnya dan melepaskan masker yang melekat di wajahnya.
OMG!!!Dia Denis!Tadi dia memanggilku?Haaa, dia tau namaku.Yeyeyeye.Hatiku bersorak ria.
“Jadi?”Tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Jadi apa ya?”Tanyaku bingung.
Dia menyunggingkan senyum menawannya.Buatku merinding untuk sesaat.
“Pulang denganku.”Jawabnya.
“Oh, boleh deh.Lagian panas.Uangku juga habis.”Jawabku.Jawaban yang bodoh, tapi setidaknya aku jujur.Tidak jaim.Langsung saja aku naik, dan duduk di belakang punggungnya.Lalu dia tertawa agak keras, membuatku sedikit bingung.
“Eh, ada yang salah?”Tanyaku hati-hati.
“Engga ko.Kamu lucu.”Jawabnya.Aku tersenyum, kalo aku di rumah pasti aku udah loncat-loncat sambil berteriak deh.Dan dia mengantarkanku ke rumah.
“Sekali lagi makasih ya Denis.”Kataku.
“Sama-sama, salam buat ibumu yah.Maaf aku ga bisa mampir.”Jawabnya sopan.”Tapi, lain kali aku akan mampir.”Tambahnya.
“Eh iya.Hati-hati ya.”
Lain kali?Berarti dia suatu hari akan mampir ke rumahku lagi?YEEEEEEEEEEEEEEE.Spontan aku berteriak kegirangan.Ups, ternyata Denis belum pergi.Aku kemudian melesat pergi masuk rumah, ga peduli dia menganggapku aneh, gila, atau apa.
Sejak Denis mengantarku pulang, mm lebih tepatnya sejak kita bertemu di GOR Denis lebih sering menyapaku.Walau Cuma sekadar tersenyum atau berkata hai.Hari di sekolah jadi begitu indah.Selain itu kita juga sering pulang naik bis bareng setiap ada pertandingan.Hal ini membuatku mati-matian untuk menahan senyumku, soalnya setiap hal kecil yang dilakukan oleh Denis tak pernah untuk membuatku berhenti tersenyum.Anehnya, Denis akhir-akhir ini lebih sering ke sekolah menggunakan bis.Biasanya dia mengendarai Satria hitamnya, membuat dia tambah terlihat keren.Teman seangkatanku yang biasa membawa mobil jadi ikut-ikutan pake bis, supaya bisa deket-deket Denis.Pengin rasanya melempar mereka jauh dari Denis.Keliatan banget kalo mereka itu naik bis Cuma pengin dapet perhatian dari Denis.Tapi, apalah daya aku bukan siapa-siapa ga berhak melarang mereka.Malam ini bintang lagi banyak banget, ah kalo saja aku punya pacar.Malam minggu gini ga mungkin aku bengong sambil ngomong sendiri liatin bintang-bintang yang cantik itu.Tiba-tiba ada suara motor masuk ke pekaranganku, sepertinya aku kenal motor itu.Pemilik motor itu melambaikan tangan ke arahku.What?Apa aku ga salah liat?Itu bener Denis?Bergegas aku lari ke ruang tamu.Di ruang tamu kulihat ibu sedang ngobrol dan ternyata benar dia Denis.Ibu kemudian memanggilku.
“Vio, ada temanmu nih.”Kata ibu.
“Ya bu.”Aku menemui ibu.Setelah aku di ruang tamu, ibu meninggalkan kami berdua.Aku melihat penampilan Denis dari ujung kaki samapi rambut.Wah, dia terlihat lebih tampan dari biasanya.Denis mengenakan t-shit biru muda dengan jaket yang tidak dia restleting ditambah celana jeans dengan warna senada dengan jaket yang dia kenakan.Aku jadi malu dengan penampilanku yang hanya memakai celana kolor butut selutut dan kaos doraemon yang warnanya hampir memudar.
“Eh, ada apa ya?”Tanyaku.
“Lagi sibuk ga?”Dia balik bertanya.
“No.”Jawabku singkat.
“Ada pasar malam loh.Kesana yuk.”Ajak Denis.
“Aku tanya ibu dulu ya.”Kataku dan berharap ibu mengijinkan aku pergi.
“Boleh sayang, asal jangan sampai larut malam.”Tiba-tiba ibu nongol dan bergabung dengan aku dan Denis.Denis tersenyum mendengar jawaban ibu.
“Siap Ibu.”Kata Denis sambil tangannya memberi tanda hormat.Ibu terkikik melihat Denis.
“Udah sana ganti baju.Masa pake kaos butut gitu.”Kata ibu.
“Ih, ibu malu maluin.”Rengekku lalu pergi ke kamar.
Uh, aku ga punya baju bagus.Sudahlah mending ku pakai kaos bergambar jerapah dilapisi cardigan hitam dengan jeans ¾.Ku kucir tinggi rambutku menyerupai buntut kuda.Lalu aku bersiap untuk ke pasar malam.
“Ibu kita berangkat dulu ya.”Pamit Denis.Aku idem aja deh, batinku.
Di pasar malam, aku dan Denis mengelilingi berbagai macam stan.Lalu kami berhenti di stan pernak-pernik.Disitu aku melihat sepasang gelang lucu, kata penjualnya itu gelang unutuk orang yang punya pasangan.Aku membelinya.Kalo di final nanti Denis menang akan kuberi gelang ini.Aku mengajak Denis naik bianglala, awalnya dia ga mau tapi setelah aku merengek akhirnya dia mau juga.
“Coba liat deh, bintangnya deket banget kan?Serasa bisa diambil.”Celotehku sambil terus tersenyum menatap bintang.
“Kenapa kamu selalu bisa bersemangat seperti ini?”Tanya Denis.
“Karena cinta.”Jawabku penuh arti.”Karena aku mencintai seseorang.Dia membuatku menggunakan cinta dengan cara yang benar.Karena dia juga, aku lebih bisa menikmati hidup.”Rentetku tanpa henti.
“Lalu orang yang kamu cinta tau?”Tanyanya lagi.
Aku menggeleng cepat dan menggembungkan pipiku.
“Seandainya aku bisa seperti kamu.”Katanya.
“Kenapa?”
Tiba-tiba bianglala berhenti, membuatku agak oleng dan tanpa sengaja aku menubruk Denis.Tanpa sadar kami saling menatap lama, tak lama bianglala jalan kembali membuatku sadar dan kembali ke tempatku semula.
Setelah puas di pasar malam, Denis mengajakku ke taman.Aku berbaring di bangku taman sedang Denis tengah asik bermain pasir.
“Dulu, waktu kaka masih hidup kita disini sering main bareng.”Denis mulai bercerita.
“Dia meninggal 3 hari setelah aku lulus SMP.Saat itu hujan deras, aku masih di rumah teman.Waktu dia menyusulku, dia tertabrak truk dan meninggal di tempat.Setelah kaka meninggal, aku sering ditemani oleh seseorang.Sama seperti kamu, dia juga orang yang membuatku semangat.Tapi, dia malah ikut pergi.Dia pergi tanpa kabar dan kepastian.”Terang Denis.
Dia?Apakah Dia yang dimaksud Denis itu cewenya?Mendengar ini, rasanya dadaku sesak sekali.
“Maka itu, terkadang aku terlihat dingin pada perempuan.Karena aku tidak ingin mengingat dia lagi.Aku menganggap semua perempuan yang mendekatiku tak jauh berbeda dengan Dia.Namun, aku salah karena kamu berbeda.Aku suka itu.”Jelasnya lagi.Mendengar cerita Denis, aku menyunggingkan senyum.
“Kalo Dia kembali menemuimu.Apa yang akan kamu lakukan?”Tanyaku konyol, semoga Denis tidak mencintai perempuan itu lagi, kataku dalam hati.
“Entahlah.”Jawab Denis sedikit mengecewakan.Pertanda Denis masih mengharapkan perempuan itu.Kemudian Denis bercerita lagi tentang sosok yang dia ceritakan itu, dan benar saja dia yang dimaksud adalah seorang perempuan.Lalu, Denis dengan seenaknya memamerkan foto gadis itu.Aku melotot melihat sosok yang di foto itu.Cantik sekali.Berbeda denganku yang berantakan ini.Aku menelan ludah, dan mengembalikan foto itu.
“Cantik.”Kataku singkat dan aku tidak akan mengatakan atau bertanya tentang gadis itu lagi.Membuatku tertohok.
“Memang.”Jawab Denis.Terlihat bahagia dan rasa bangga saat Denis mengiyakan ucapanku tadi.Dan Denis melanjutkan ceritanya.Setengah mati aku tahan air mataku agar tidak tumpah.Aku merasa kecil, rendah.Ingin kusumpel telingaku dengan apapun itu agar aku tidak mendengar cerita Denis lagi.Alhasil aku tertidur di bangku taman.Menyadari tidak ada respon dari Viona, Denis menghampiri Viona dan tersenyum.Viona telah tertidur pulas.Denis memandang Viona.Dia membelai pipi Viona lembut, lalu memanggil taksi untuk mengantar Viona pulang.
Saat aku terbangun, aku sudah ada di rumah.Jam berapa ini?Jam 2 pagi?Loh, apa semalam aku ketiduran ya?Tapi ko aku ada disini?Ah, peduli amat.Mending aku tidur lagi.Esok hari saat aku terbangun, aku melihat memo di meja belajarku.Ternyata dari Denis.Dia memintaku menemaninya ke Mal untuk membeli sesuatu.Dia akan menjemputku jam 9 pagi.Aku melirik jam.Masih jam 8, lebih baik aku nonto doraemon dulu, baru setelah itu mandi.Selesai menonton doraemon, aku sudah bersiap di depan rumah menunggu kedatangan Denis.Tak lama kemudian Denis datang, dan kami melaju ke pusat kota.
“Aku pengin beli sesuatu buat orang spesial dalam hidupku.”Kata Denis menjawab kebingungan.Pasti buat cewe itu, batinku.
“Oh.”Jawabku singkat.
“Kamu sakit?”Tanya Denis sesaat mennghentikan langkah lalu menatapku.STOP DENIS!Kamu bikin aku kaku.Jeritku dalam hati.
“Engga.”Akhirnya aku mampu menjawab pertanyaan Denis.
“Kamu ga kaya biasanya.”Kata Denis lagi dengan tatapan seperti khawatir akan aku.Iya aku males.Soalnya akku suruh nemenin kamu milih hadiah buat cewe cantikmu.Dumelku.
“Kau akan beli apa?”Tanyaku mengalihkan percakapan barusan.
“Menurutmu?”Denis balik bertanya.
“Ya sudah masuk dulu aja, siapa tau kau liat sesuatu yang bagus.”Jawabku.
Akku dan Denis masuk ke bagian accesorries, setelah hampir satu jam memilih-milih.Denis memutuskan untuk membeli kalung dua liontin.
“Loh, ini kan liontinnya ada dua.Ko, Cuma satu?”Tanyaku.
“Liontin yang satu biar jadi kejutan.”Katanya.
Aku hany beroh ria.Iri sekali pada gadis itu, dia begitu istimewa.Saat kami hendak ke food court, ada seseoarang memanggil nama Denis.Kami berdua berhenti dan Denis terbelalak mengetahui siapa yang memanggilnya.Aku melihat ke arah suara itu, gadis tinggi, putih, bak seorang bidadari menghampiri kami.Jangan-jangan dia cewe yang ada di foto Denis.Ya ampunnnnn, cantik banget.Aku sampai bengong melihatnya.Dia menggandeng tangan Denis dan meninggalkanku, terlihat Denis berontak melepas tangan gadis itu lalu memandangku.Aku menatap Denis nanar, sepertinya ini hari terakhirku bersama Denis karena aku yakin besok Denis akan terus bersama cewe itu.Hatiku sakit sekali.Sampai di rumah, aku mengunci pintu kamar dan menangis.Kenapa harus gini sih?Mending aku ga kenal Denis aja kaya dulu daripada harus gini pada akhirnya.
Benar saja, esok harinya cewe itu tak henti untuk membuntuti Denis.Seolah-olah Denis itu hanya miliknya.Tidak boleh ada cewe lain yang mendekati Denis.Tak sengaja, aku bertemu dengan Denis dan cewenya yang aku ketahui bernama Alia.Mataku dan Denis bertemu, tapi aku buru-buru berpaling.Hubunganku dan Denis jadi bertambah jauh.Setiap kami bertemu, tak pernah ada senyum atau sapaan manis lagi.Sebenarnya aku merasa kehilangan Denis, tapi sudahlah aku Cuma orang yang baru kenal Denis dalam beberapa bulan ini.Tidak seperti Alia yang telah lama mengenalnya.Dan mereka berdua memang pasangan yang serasi, cantik dan tampan.Tidak seperti aku yang menyedihkan ini.Akhirnya aku kembali seperti dulu, mengagumi Denis dalam diam.Aku membaca berita acara di mading, sore ini ada final antara kelas Denis dengan kelas XII IPS2.Aku bingung, karena aku pernah janji kalo final nanti aku bakal kasih gelang itu buat Denis.Tapi aku ragu melakukan itu sekarang, karena ada Alia.
Sore ini, pertandingan dimulai.Denis berulang kali melihat ke tempat audience.Denis merasa kehilangan sosok yang biasa meneriaki namanya saat pertandingan volly.Ya, Denis menanti kedatangan Viona.Harinya terasa kurang tanpa cewe mungil yang lincah itu.Biasanya, Viona datang dengan mengenakan topi hitam berlogo nike.Tapi sekarang sosok itu ga ada.Sepanjang pertandingan Denis berulang kali melirik ke arah bangku yang biasa diduduki Viona.Hingga 15 menit pertandingan akan berakhirpun Viona tak kunjung datang.Tiba-tiba dari arah pintu masuk audience tampak sosok yang sangat di kenalnya tengah berlarian menuju bangku penonton.Viona datang.Denis tersenyum kecil dan tampak bersemangat, berulang kali dia berhasil menyemash telak lawannya dan membawa kemenangan untuk kelasnya.Usai pertandingan, Viona melihat Alia menghampiri Denis.Alia mengecup pipi Denis kemudian memeluknya.Viona terperangah melihat adegan itu, bergegas dia pergi tapi Denis melihatnya.Denis melepas pelukan Alia lalu mengejar Viona.Denis memungut sesuatu yang jatuh dari genggaman Viona.Dibukanya kotak kado mungil itu.Ternyata isinya gelang, didalam kotak itu ada tulisan tangan Viona yang mengucapkan selamat atas kemenangan Denis.Denis melanjutkan untuk mencari Viona, tak dihiraukan teriakan Alia yang memanggil namanya.Setelah berkeliling stadion mencari Viona, Denis melihat Viona sedang di depan pintu utama GOR.Tampak Viona berlari kecil menerobos hujan.
Viona terus berlari tanpa pedulli hujan yang terus mengguyurnya, tiba-tiba ada payung melindunginya.Viona melihat ke samping.Denis.Viona melengos, tapi Denis menarik pergelangan tangan Viona dan memeluk gadis itu.
“Jangan pergi.”Kata Denis.Viona tak mampu berkata apapun, dia tidak mengerti apa yang dilakukan Denis.
“Kenapa kamu ngilang?”Tanya Denis lagi.
“Karena Alia?Dengar dia bukan siapapun buat aku.Memang aku sempat mencintainya, tapi sekarang tidak.”Jelas Denis sambil menatapku tajam.
Aku diam.
“Karena aku cinta kau.”Kata Denis.
Aku menatap Denis, mencari kebenaran di matanya itu.Lalu Denis mengeluarkan sebuah kotak yang dulu dia beli saat bersamaku.Dia memasangkan kalung itu di leherku.Aku melihat kalung itu, ada huruf D dan V sebagai liontin kalung itu.
“Aku pernah bilang kalo kalung ini buat orang yang spesial.Kamu orang spesial itu Vio.”Kata Denis lagi.Namun aku masih tak bergeming.Denis menyodorkan tangannya ke hadapanku dan merengkuh tangan kiriku.Tangan kami bertaut dengan gelang yang sama.Aku tersenyum melihatnya.Aku menghentikan langkah dan “Aku lebih mencintai kamu Denis.”Jawabku. Aku dan Denis saling menatap dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah sambil hujan-hujanan.

This is about rain and September again
When first time I saw him
I like him
I knew him
I talked with him
I felt happy
I got jealous because of him
I’m in love
And last time he loves me back

you belong with me



You're on the phone with your girlfriend, she's upset
She's going off about something that you said
'Cause she doesn't get your humor like I do

I'm in the room, it's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music she doesn't like
And she'll never know your story like I do

But she wears short skirts, I wear T-shirts
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time

If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You, you belong with me, you belong with me

Walking the streets with you and your worn-out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be
Laughing on a park bench, thinking to myself
Hey, isn't this easy?

And you've got a smile that could light up this whole town
I haven't seen it in a while since she brought you down
You say you're fine, I know you better than that
Hey, what ya doing with a girl like that?

She wears high heels, I wear sneakers
[| From: http://www.elyrics.net/read/t/taylor-swift-lyrics/you-belong-with-me-lyrics.html |]
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time

If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

Oh, I remember you driving to my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh when you know you're 'bout to cry
And I know your favorite songs and you tell me 'bout your dreams
Think I know where you belong, think I know it's with me

Can't you see that I'm the one who understands you?
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time, how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

You belong with me
Have you ever thought just maybe
You belong with me?
You belong with me

tersenyumlah



Berulang kali aku menatap pantulan diri di cermin, tetap saja ga berarti.Aku tetap buruk rupa.”Tuhan, kenapa sih aku ga kaya mereka yang mempunyai setidaknya mata yang indah untuk bisa dilihat orang.”Batinku kesal.Aku mengambil setumpuk buku dan kumasukkan ke tas selempang coklatku.Dan bersiap aku menuju ke sebuah tempat dimana aku merasa terdiskriminasi dan menjadi seorang yang super duper kuper, cupu, dan pendiam.Aku lebih suka bersama dengan Dara, Asya dan anak panti lain.Mereka benar-benar menerima aku yang seperti ini.Ku hembuskan nafas untuk menjalani hari di sekolah, baru saja selangkah menapaki koridor aku sudah menundukkan kepala dan melangkah dengan cepat agar sampai di kelas.Inilah yang dilakukan seorang Allita Zahra Dinata setiap harinya, selalu jalan dengan menundukkan kepala.
“Kenapa sih Lit?Kamu kebiasaan deh.”Kata Dara yang kebetulan sekelas denganku.
“Aku ga kaya kamu Dara.Kamu cantik, putih dan indah.Sedangkan aku?”Jawabku lirih.Jawaban sama yang selalu aku lontarkan pada teman-teman kalo ada yang menanyakan ini.Dara mendengus kesal, dia gemas dengan Lita yang seperti ini.
“Kamu cantik, tapi kalo di panti.”Jawab Dara ketus.
“Apa maksudnya?”Tanyaku bingung.
“Dikasih tau juga ga bakal ngerti dan berubah kamu Lit.”Jawab Dara lagi menyudahi perbincangan pagi ini.
Jam 16.00 aku bersiap untuk ke panti dia minta izin ke papanya yang kebetulan pemilik panti.
“Pap, Lita ke panti dulu ya.Biasa pulang jam setengah delapan, belajar bareng dulu sama Dara dan Asya.”Pamitku.
“Iya Lita, hati-hati loh.”Jawab Papa.
“Pasti, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Ayo mang.”Kataku pada Mang Parih, sopir pribadiku.Berhubung hari sore, Lita gak bawa mobil sendiri biasanya dia yang bawa kalo main ke panti.Cellica silver itu parkir di halaman panti, Lita turun dari mobil dan anak-anak panti menyerbunya.Bersalaman bahkan mencium tangan Lita secara bergantian, di panti Lita selalu bersikap ceria.Sangat berbeda sekali dengan sikapnya di sekolah, yang murung dan pendiam.Dara dan Asya pun sempat heran melihat perbedaan sikap sahabatnya itu.Ke sekolahpun Lita memilih naik kendaraan umum atau bersepeda, padahal dia anak dari orang yang mampu.Penampilan Litapun terkesan sangat cuek dan sederhana.Ketiga sahabat itu berkumpul di kamar Dara, ketiganya sibuk belajar sambil bercanda bersama.
“Tuh kan Lit, kalo di panti kamu cantik banget.”Kata Dara sambil menatap Lita yang asik tertawa.
“Iya Ta.Kamu cantiknya pas di panti.”Imbuh Asya.Aku menatap kedua sahabatnya, ya sebenarnya aku juga mengerti maksud dari kedua temanku ini.Aku disini bisa tertawa lepas tapi di sekolah dia menjadi cewe pendiam.
“Kamu jangan pernah mengeluh sama keadaan kamu.Kamu punya keluarga yang sayang kamu, punya panti, punya kita.”Kata Dara lagi.
“Aku hanya nyaman disini, ga nyaman di sekolah.”Kataku lagi.
“Gimana kamu bisa nyaman, coba deh kamu itu ceria.Ga usah mikirin tanggapan oranglain, murah senyum.Mereka pasti suka.”Kata Asya.Aku mendengar penjelasan Dara dan Asya, ah ya memang mungkin aku terlalu berpikir kolot dan terlalu ke GR an, emangnya mereka peduli sama aku.Kayanya engga deh.Hmmm, iya deh besok aku mencoba buat gak jalan tertunduk lagi.
“Emm ya, kita liat besok.”Jawabku datar.
Sekali lagi aku menatap wajahku di cermin sambil menyunggingkan senyum.Aku rasa mereka benar, aku hanya harus memberi senyum dan jangan mempedulikan orang lain.Tapi fisikku seperti ini, apa mereka ga menganggapku cewe gila nantinya.Uh, kenapa sih susah banget jadi diri sendiri.Kutatap satu per satu wajah teman sekolahku, mereka gembira sekali.Aku mulai berjalan tanpa menunduk dan mencoba tersenyum pada salah seorang yang ada di dekat koperasi.Dan mereka membalas senyumanku.Menyenangkan sekali.Bebanku berkurang satu, aku ingin cepat-cepat menceritakan ini pada Dara.
“Dara!”Panggilku dengan sumringah.Melihat ekspresiku yang berebeda pagi inin, Dara sedikit mengernyitkan keningnya.Setelah jarak kami begitu dekat, refleks Dara menempelkan telapak tangannya pada dahiku.
“Kenapa?”Tanyaku.
“Kamu ga sakit kan?”Dara balik bertanya.
“Engga.”
“Tumben keliatan beda.”
“Hehehe, kenapa?Ga boleh ya?”
“Ada apa sih?”
“Ternyata kamu bener, aku tadi senyum sama ya Cuma satu anak sih.Terus dia bales senyuman aku.Nyenengin banget.”
Melihat ekspresiku yang seperti ini, Dara tersenyum simpul.
“Tuh kan, senyum itu emang cara paling ampuh buat ngeluluhin orang.Pelajaran selanjutnya buat kamu, pasang muka yang sumringah.Jangan ditekuk gini.”Kata Dara lagi.Aku menatap Dara, dia sebenarnya tidak begitu cantik, tapi dia memang menarik.Pantas saja banyak yang menyapa Dara ketika dia lewat.Oke deh, aku mencoba untuk tidak menekuk mukaku lagi.Batinku.Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Eh iya, pulang sekolah langsung ke panti aja yuk.Mau ada penyumbang nih, katanya anak penyumbang itu yang nganterin.Siapa tau ganteng.”Kata Dara usil.
“Idih, kamu loh.Mau kemanain tuh cowomu yang ganteng itu.”Jawabku.
“Cowo yang mana?”
“Itu si Abidin.Hahahaha.”
“Sialan kamu Ta.”
Sudah hampir setengah jam aku, Dara, dan Asya duduk di ayunan depan panti menunggu penyumbang itu datang.Tapi ga nongol-nongol juga.
“Duh, bener ga sih beritanya.”Keluh Asya.
“Iya Ra.”Tukasku.
“Bener ko, masa Bu Nisa bohong.”Jawab Dara.Baru saja aku dan Asya protes, tiba-tiba ada mobil pick up memasuki halaman panti.Dan ada seorang cowo yang berjalan ke arah kami, putih bersih tapi keliatan cupu.Melihat kedatangan cowo cupu itu, Dara dan Asya ngibrit ke dalem ninggalin aku.
“Eh, maaf ini panti asuhan Ahmad Dahlan bukan?”Tanyanya sambil membenarkan kacamukanya (maksudnya kacamata, Cuma itu nutupin muka jadi disebut kacamuka).
“Iya.Ada apa ya?”Tanyaku.
“Ini ada sumbangan sembako dan sedikit dana dari PT. DELTA.”Katanya.
“Oh iya, ini aku lagi nunggu.Bawa masuk saja.Aku bantu.”
“Terimakasih.”
Aku mengikuti cowo cupu itu dan membantunya membawakan sebagian sembako.Dara dan Asya malah asik mengintip dari kamarnya sambil cekikikan.Awas aja ntar.Dasar.Katanya ganteng.Ini apaan, biasa aja gini.Penipuan sosial.Aku membuatkan segelas jus jeruk untuk cowo itu, saat aku mengantarkan minuman terlihat anak panti bergembira melihat dia sedang bercerita.Ah?Pake bahasa inggris?Niat banget dia cerita pake dua bahasa gitu.
“And the crocodile ready to catch the mousdeer.”Katanya dengan ekspresi yang unik.
“Itu artinya.”
“Dan buaya bersiap untuk menangkap kancil.”Sambungku
Cowo itu menatapku lalu tersenyum, aku menghampirinya.
“Nih, kau perlu minum.”Kataku sambil menyodorkan minuman.
“Thanks.”Jawabnya dan meneguk jus jeruk hingga habis.Dia benar-benar haus.
“Mau tambah?”Tawarku.
“No, that’s enough.”Jawabnya lalu melanjutkan ceritanya.Selesai bercerita, dia menghampiriku.
“Maaf, gue lancang.”Katanya sambil tertunduk.
“Lancang kenapa?Aku malah senang ko.Ada cowo yang mau berbagi dengan anak panti.Seringlah main kesini, nanti aku yang mentranslate ceritamu.”Kataku.
“Gue usahain.Senang bertemu dengan lo.Gue Tristan.”Katanya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.
“Lita.Kamu anak dari perusahaan itu?”Tanyaku tanpa basa-basi.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum simpul lalu membenarkan kacamatanya, lekas dia berpamit pulang.
“Ciee, udah akrab nih sama cowo berkacamuka itu.”Asya menghambur padaku dan mencubit lenganku.Aku menatap keduanya geram.
“Tau ah.”Jawabku malas.
“Ih Ta, jangan marah dong.Kita gak tau kalo ternyata dia itu standar, ga ganteng gitu.Bukan maksud memepermainkan kamu.”Jelas Asya.
“Aku ga marah soal itu, toh aku juga ga cantik kaya kalian.Cuma yag bikin kecewa kenapa kalian pada kabur setelah melihat wujud anak pemilik perusahaan itu.”Kataku cepat.
Mereka berdua terdiam.
“Sudahlah, aku mau pulang.Ini sudah sore.”Pamitku tanpa menjabat tangan dan pamit pada Bu Nisa.Keduanya menatap kepergianku dengan wajah muram, aku tidak marah sungguh.Hanya saja aku merasa mereka itu pemilih dalam berteman.Mungkin kalo aku bukan anak pemilik panti ini, mereka juga enggan berteman denganku karena aku buruk rupa.Buktinya, mereka tau anak pemilik perusahaan itu tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan mereka kabur.Aku menghela nafas, percuma saja mereka mengajariku ini itu tapi mereka sendiri juga sama.
Esok harinya aku berjalan agak tergesa, aku hampir telat dan upss aku benar-benar tidak memperhatikan jalanku.Aku menabrak orang.
“Sorry.”Kataku sambil mengambil bukunya yang jatuh karenaku.Aku menatap cowo itu lama.Dia tampan.Dan cowo itu tampak terkejut melihatku lalu tersenyum.
“Kamu.”Katanya.
Aku mengernyit.
“Ya?Kamu siapa?”Tanyaku bingung.Buru-buru cowo itu memalingkan muka.
“Sorry, hanya saja.Ah, entahlah.”Jawabnya tidak jelas.
Jawaban macam apa itu.Batinku.Aneh.
“Ta, udah dong pliss kamu jangan marah.”Rengek Dara dan Asya saat pulang sekolah.Aku masih diam tak bergeming.
“Kita janji deh, ga bakal gitu lagi.”Imbuh Dara.
“Kalo semisal aku bukan anak pemilik panti mungkin ga kalian berteman denganku.”Kataku tegas.Mereka berdua kembali terdiam.
“Gimana?Ga mau kan?Kalian pasti malu dan enggan menjadi temanku karena aku tidak cantik.”Jawabku sengit.
“Ga gitu Lita.Kami ga sejahat dan seburuk itu.Hanya saja kemarin aku sedikit ngeri melihat cowo kemarin.Dia terlihat garang.”Kata Asya dnegan nada penyesalan.
“Pelajaran buat kalian.Don’t judge everyone from their cover.Learn them from the story of their life.And I’m sure you will realize how trully amazing their life is.”Ucapku panjang lebar.Keduanya hanya menganggukkan kepala, tak berani menatapku.Soalnya mereka pernah bilang kalo aku marah itu nyeremin banget.Melihat keduanya tertunduk, aku tersenyum.
“Maaf, ayo ku traktir mr.Burger.”Kataku.Sontak mereka menatapku dan menyunggingkan senyum manis mereka.
“Mauuuuu.”Jawab mereka serempak.
Sesuai dengan janjiku, kami bertiga mampir di mr.Burger, ketika aku sedang melahap burgerku aku melihat CR-V silver berhenti di mr.Burger, aku seperti pernah melihat pengemudinya deh, oh iya dia kan yang tadi menabrakku.Seperti punya telepati, anak itu refleks menatapku, aku yang sedang memperhatikan kontan langsung tertunduk.Entah Cuma perasaanku aja ya, sepertinya dia menghindar dariku.Emang aku semengerikan apa sih.
“Ta, liatin apa sih?”Tanya Asya.
“Eng, kamu kenal dia.”Kataku menunjuk anak itu.
“Mana?”Tanya Asya lagi.
“Itu yang jalan ke arah CR-V.”Kataku.
Asya dan Dara mencari CR-V dan mereka ber oh ria.
“Ohh, itu Mirza.”Kata Dara dan Asya.
“Siapa dia?”Tanyaku.
“Sekelas sama aku.Anak capoeira”Jelas Asya.
“Ko ga pernah keliatan ya?”Tanyaku.
“Iyalah dia kan kalo istirahat pasti kumpul sama anak capoeira lain.Emang kenapa?Kamu naksir?Cieeee.”Asya meledekku.
“Kenal juga kaga.”Ketusku.
“Loh, bisanya tau dia?”Dara balik bertanya.
“Tadi aku menabraknya dan tiba-tiba dia menggumam ga jelas kaya tawon.Eh, iya cowo yang kemarin itu Englishnya keren tau.Kalian denger sendiri kan?”Kataku menggebu.
“Ah masa?Aku ga denger sih, asik cekikikan di kamar.”Kata Dara.
“Katanya dia mau ke panti lagi, coba deh kalian denger.”Kataku.Keduanya mengangguk bersamaan sambil mengacungkan jempol tanda setuju.Dan ternyata cowo itu menepati janjinya, dia datang ke panti lagi sambil membawa satu karung entah apa isinya dengan tergopoh-gopoh.Segera saja aku membantu cowo itu.Setelah dibuka ternyata isinya boneka berang-berang.
“Berang-berang?”Tanyaku.Dia hanya memandangku dan tersenyum, what?Kenapa kalo diliat dengan dekat, senyumannya manis banget.Parah ini.Akku menggelengkan kepala cepat, berharap Cuma berhalusinasi.
“Nanti lo bakal tau.Bantu gue translate ya.”Katanya.Aku hanya mengangguk sambil masih penasaran apa maksudnya dengan boneka berang-berang, ga ada yang lain apa.Mashimaru atau piglet kan lebih terkenal.
Tristan mulai bercerita, dia menceritakan tentang kucing dan berang-berang.Ah aku tau kenapa dia membawa berang-berang, dia pasti menghadiahi ini untuk anak panti agar mereka bisa jadi sebaik berang-berang.Aku tersenyum, dia benar-benar kreatif dan berbeda dari laki-laki manapun.
“Bery treats Pusy again with yummy foods, Pusy eats that foods greedily.After he’s satisfied, he goes to home and said,” I hope i can treat you tommorrow.”Kata Tristan.
“Bery menjamu Pusy lagi dengan makanan yang enak, Pusy makan dengan lahap.Setelah kenyang dia pamit pulang dan mengatakan,”Semoga besok aku bisa menjamumu.”Aku mentranslate.
“The next day, Bery comes to Pusy’s house and Pusy is sitting on the tree and he’s pretending doesn’t look Bery.Bery said,”Maybe he is so busy.”
“Esok harinya, Bery datang ke rumah Pusy dan Pusy sedang duduk diatas pohon dan dia pura-pura tidak melihat Bery.Bery berkata, mungkin dia sedang sibuk.”
“”Pusy comes to Bery’s house and said,” I’m so sorry Bery, I was busy yesterday.I was looked for the earth, so I couldn’t say any words to you.”
“Pusy datang ke rumah Bery dan berkata, maaf Bery kemarin aku sibuk,Aku sedang mengawasi bumi dan aku ga bisa berkata apapun padamu.”
“Nevermind Pusy, I’m understand but I’m sorry I can’t treat you.Someone’s forbids me to treat you.”
“Ga papa Pusy, aku mengerti tapi maaf aku ga bisa menjamumu karena ada ornag yang melarangku menjamumu.”
“Who is someone give damn forbid like that?Pusy’s asked.He is someone who asks you to looking for the earth.Who else.Said Bery.Hearing that answer, Pusy feels so ashame and Pusy comeback to his house and after that even he meets Bery, he always stay away and hide.”
“Siap orang yang meyuruhmu melakukan itu Bery?Tanya Pusy.Siapa lagi kalo bukan orang yang menyuruhmu menjaga bumi.Jawab Bery.Mendengar jawaban Bery, Pusy merasa malu dan pamit pulang setelah itu setiap Pusy ketemu Bey, Pusy selalu menghindar dan sembunyi.”
“Ih, ko Pusy jahat banget ya.”Ceplos Dita, salah satu anak panti.
“Jadi kalian harus gimana?”Tanyaku sambil tersenyum.
“Jangan menipu.”
“Jangan pura-pura gak liat.”
“Jangan pengin menang sendiri.”
“Itu semua benar, intinya kalian ga boleh berbuat curang seperti Pusy, nanti Tuhan bisa marah.”Jelasku.Lalu anak-anak bertepuk tangan.
“Nih yang pinter bahasa inggris namanya Ka Tristan.Dia bawa hadiah buat kalian.”Kataku sambil memperkenalkan Tristan.Tristan tersenyum dan memberi sambutan pada anak panti.Kemudian aku membagi boneka berang-berang itu.Tanpa Lita sadari, sedari tadi Tristan menatap Lita dan sesekali tersenyum.
“Eh ada apa ya?”Tanyaku sedikit salting.
“Gapapa, khusus buat Ka Lita yang cantik aku kasih tedy.”Kata Tristan sambil menyerahkan tedy berwarna kuning muda, keliatannya empuk banget.
“Loh?Ko?”Aku balik bertanya.
“Buka kertas di kantong tedy.”Perintah Tristan.Aku menurut, dan membaca isi kertas itu “Keep smiling”.
“Apa maksudnya?”
“Buat lo, tetap tersenyum ya.Lo cantik kalo senyum, gue suka liatnya.”
Entah ini sekedar perasaan atau mungkin berhalusinasi aku melihat ketulusan di mata Tristan saat mengucapkannya.Aku membalas senyumnya.Memang benar, dia begitu berbeda.Dan inilah Lita yang baru, aku lebih berusaha untuk tersenyum dan tidak seperti Lita yang dulu yang tertunduk dan menutup diri.Semakin hari aku dan Tristan semakin dekat, walaupun terkadang Tristan sedikit mencurigakan tapi aku tidak mempermasalahkan itu.Tristan selalu menguatkan aku, dia juga tak hentinya menyemangatiku.Semua berjalan begitu indah, apa yang dikatakan Dara dan Asya dibenarkan oleh Tristan.
“Tan, kamu sekolah dimana sih?”Tanyaku penasaran.Mendengar pertanyaanku, Tristan tampak terdiam.Dan malah mengajakku pulang, lagi-lagi dia speerti menghindar ketika aku menanyakan hal tentang dia.
“Asya.”Panggil Mirza.
“Ya, ada apa?”Tanya Asya sedikit heran karena tidak biasanya Mirza menyapanya.
“Eng, temanmu yang sselalu pulang denganmu itu siapa ya?”Tanya Mirza.
“Yang mana?”Asya balik bertanya, apa mungkin Dara.Dia kan cantik.
“Yang dua orang itu.”
“Oh, Dara ya?Kenapa?Naksir?Dia emang cantik.”
“Sepertinya bukan dia.Satunya lagi.”
“Lita?Allita Zahra Dinata?”
“Ah iya mungkin itu, yang selalu tertunduk itu kan.”
“Iya benar ada apa?”
“Apa dia selalu seperti itu?”
“Ga juga, berhubung lo cowo ganteng ya mungkin aja dia kaya gitu.Sebenarnya dia baik dan asik Cuma mindernya kelewatan.”
“Oh pantas saja.”
“Ada apa sih?Sebelumnya lo udah kenal Lita ya?”
“Engga, pengen tau aja.”Kata Mirza sambil melenggang meninggalkan Asya yang tengah bingung pada Mirza.
Mobil CR-V tiba-tiba memasuki panti, Dara, Asya, dan Lita melihat mobil itu dan saling bertatapan.
“CR-V?Siapa tuh?”Tanya Dara.
Aku hanya menggeleng, begitu juga dengan Asya.
Oh, ternyata Tristan.Dia datang hanya dengan membawa hand puppet, sepertinya dia tampak lelah namun dia tetap tersenyum menyambut anak panti yang menghampirinya.
“Ganti mobil dia?Biasanya kan pake Yaris.”Bisik Asya.
“Entahlah, ya sudah aku ke Tristan dulu ya.”Pamitku.
Setelah Lita pergi, Asya seperti memikirkan sesuatu.Dia merasa keanehan pada Tristan.Dia melihat mobil Tristan dan mencatat plat mobil Tristan.Asya dan Dara melihat Tristan dan Lita sedang bercerita, kemudian Tristan memperagakan beberapa gerakan capoeira.Hal ini membuat Asya semakin penasaran, siapa Tristan sebenarnya karena menurut cerita Lita, Tristan selalu menghindar ketika ditanya mengenai sekolah atau sedikit kehidupannya.
Sian sepulang sekolah, Asya tidak pulang bersama dengan Dara dan Lita.Asya bilang ada sedikit urusan.Setelah meyakinkan kedua sahabatnya itu, Asya memberanikan diri untuk melakukan rencananya.Dia memasuki ruang latihan capoeira.Disana, Asya melihat Mirza yang dengan lincahnya menunjukkan kebolehannya dalam bermain capoeira.Selesai latihan, Asya berlari kecil menghampiri Mirza.
“Mirza.”Teriak Asya.Mirza menoleh, lalu tersenyum.Asya tercekat melihat senyuman Mirza.Gila, ganteng banget.Puji Asya.Eh, jangan sampe lupa rencana lo Asya.Batin Asya lagi.
“Tumben belum pulang.”Kata Mirza.
“Tadi anak-anak kelas nyuruh liat lo latian capoeira dulu.Lo kan mau tanding.”Kata Asya dengan alasan yang sangat cantik.Tapi dia memang benar.
“Oh, thanks yah.”Kata Mirza dan tersenyum lagi.
“Eng, boleh nebeng ga?”Tanya Asya sedikit ga tau malu.
“Dengan senang hati.Lagian gue juga suka ga ada temen.”Jawab Mirza tanpa sedikit curiga.Fiuh, Asya menghembus nafas lega ternyata ga sesulit yang dia kira.Sempat Asya melihat plat mobil Mirza.Dan Asya tersenyum, sepertinya dugaan dia benar.Sepanjang perjalanan pulang, Asya dan Mirza berbicara ngalor-ngidul.Bahkan tanpa Mirza sadari, Mirza menceritakan tentang Lita.Dn ini menambah kecurigaan Asya.
“Gue anter sampe panti aja ya.”Kata Mirza.
“Loh?Lo ko tau gue ke panti?”Selidik Asya.
Mirza terdiam, tidak menjawab pertanyaan Asya.Setelah sampai panti, Mirza segera pamit pulang.
“Eh, lo dianter siapa?”Tanya Dara.
“Mirza.”Jawab Asya singkat.
“Widihhhh, lo ga bilang-bilang ternyata deket sama Mirza.Tau gitu gue minta dikenalin.”Kata Dara dengan menggebu-gebu.Asya segera menyeret Dara ke kamar lalu menceritakan yang selama ini dia curigai dari Tristan.
“Jadi, menurut lo.Tristan itu Mirza?”Tanya Dara.
Asya mengangguk.
“Terus gimana kita cerita ke Lita nih.”
“Nah, itu yang bikin bingung.Kalo Lita tau Tristan itu Mirza pasti dia gamau deket sama si Tristan lagi.Tau sendiri kan Lita kaya apa.Padahal sejak ada Tristan, Lita jadi lebih berwarna gitu deh hidupnya dan si Mirza itu juga keliatan sukanya kan sama Lita.”
“Apa kita minta kejelasan sama Mirza itu.”
“Ide bagus.”
Keduanya lalu sepakat untuk menanyakan kebenaran bahwa Mirza itu adalah Tristan.Mendengar ocehan Asya dan Dara, tampak Mirza berdiam diri.Dia seperti tidak bisa berkutik.Dan akhirmya da mengaku kalo sebenarnya dia adalah Tristan.
“Tapi kenapa lo harus nyamar segala sih?”Tanya Asya.
“Awalnya gue nyamar karena gue gamau orang-prang pada tau kalo gue lagi kasih sumbangan ke panti.Kalian tau sendiri kan bokap gue cukup terkenal.Pasti deh kalo gue ke panti, beritanya tersebar dan heboh.Dan gue juga ga tau kalo Lita itu satu sekolah sama gue, dan kita sempet tabrakan waktu itu.Gue udah nebak kalo Lita orangnya minderan apalagi sama cowo.Denger ceritanya yang kaya gitu, gue yang awalnya mau ngaku jadi ga tega.Gue ga mau Lita jauhin gue.”Jelas Mirza.
“Lo suka Lita?”Tanya Dara.
Mirza mengangguk.
“Baru kali ini gue liat ada cewe segitu indahnya.Dan gue juga bingung, gue bener-bener ga tau gimana caranya supaya Lita ga ngejauh dari gue.”
“Gue tau.”Kata Asya kemudian.
Asya lalu menjelaskan rencananya pada Dara dan Mirza, awalnya Mirza ragu tapi akhirnya setelah didesak oleh dua cewe bawel dan keras kepala ini Mirza menurut juga.
Minggu ini, Mirza datang ke panti.Dia datang sebagai Mirza bukan lagi Tristan.
“Lita, kenalin ini Mirza.”Kata Asya.
Lita hanya mengagguk dan membalas uluran tangan Mirza.
“Mirza juga bisa mendongeng kaya Tristan loh.Dia pengin mendongeng anak panti.”Kata Asya lagi.Mendengar penjelasan Asya, Lita mengajak Mirza menemui anak-anak panti dan benar saja anak panti sama senangnya seperti ketika Tristan membaca cerita pada anak-anak.Lalu Mirza kembali melakukan gerakan capoeira.Lita terus memperhatikan Mirza, dan sepertinya Lita juga mulai curiga pada Mirza.
“Ka Mirza ko mirip Ka Tristan ya.”Celetuk Kenia.
Mirza hanya tersenyum, lalu dia mengeluarkan kacamata dan memakainya.
“Loh, ko jadi Ka Tristan?”Tanya Alif penuh kebingungan.
Mellihat itu semua Lita buru-buru pergi, mengetahui Lita pergi, Mirza segera menyusul.Lita duduk di bangku taman dan diam.Tidak mengerti.
“Udah seharusnya kamu tau siapa aku sebenarnya Lita, tapi aku mohon jangan kamu marah atau ngejauh dari aku.”Jelas Mirza yang kini tengah duduk disamping Lita.Namun, Lita tidak bergeming.
“Aku ga pernah ada maksud membohongi kamu, tapi aku benar-benar senang melihatmu ketika kamu dengan Tristan.”Kata Mirza lagi.
Melihat Mirza dan Lita terdiam, Asya dan Dara menghampiri keduanya dan membantu Mirza menjelaskan semuanya.Dia juga mengutarakan perasaannya.Lita mendengar itu namun dia tetap diam.
“Ya ini Mirza.Namanya Ibrahim Mirzani Tristan.Mirza adalah Tristan dan Tristan adalah Mirza.”Kata Asya terbelit-belit.Lita menatap ketiga orang dihadapannya, tampak ekspresi mereka yang takut-takut dan terlihat tegang.
Lita kemudian tersenyum.
“Ya ga masalah, aku hargai kalian yang udah jujur.”Kataku.
Ketiganya tampak tersenyum.
“Ya sudah.Aku harus kembali ke panti.”Aku berpamitan, namun Mirza mencegatku.
“Ada apa?”Tanyaku datar.
“Jadi?Jawaban atas pernyataankku tadi.”Kata Mirza ragu.
“Kau lebih pantas mendapatkan orang yang lebih dari aku Mirza.”Jelas Lita dan melepaskan tangannya.
“Itu kamu.”Kata Mirza lagi.
“Aku terlalu kurang kalo sama kamu.”
“Kamu ga suka aku?”
“Aku lebih menyukai Tristan.”
Mendengar jawaban Lita, Mirza, Asya, dan Dara menghembu nafas lega.Terlebih lagi Mirza.
“Aku akan tetap menjadai Tristan sesuai yang kamu inginkan.”Kata Mirza lagi.Lita menatap Mirza dan tersipu, dia tampak malu namun cantik.
“Allita Zahra Dinata, kamu lebih indah dari yang aku bayangkan dan lebih cantik dari yang aku lihat.”Jelas Mirza.Lita menggenggam tangan Mirza dan Mirza mempererat genggamannya.


“You never realize when you look so beautifull in someone eyes, so keep smile and make everyone in your life feel happy because of you.”